Minggu, 28 April 2013

IBNU ARABI


Ibnu Arabi dikenal dikenal dengan nama Syeikh al-Akbar atau “Guru Teragung”. Ibnu Arabi adalah pemikir yang sangat berpengaruh pada sejarah Islam. Ibnu Arabi lahir di Murcia, Spanyol Muslim, pada tahun 1165 M., dia menunjuakkan bakat bakat intelektual dan spiritual yang mengagumkan sejak usia muda.
Pada tahun 1200 M., dia mengungkapkan mimpinya untuk pergi ke Timur, dan dua tahun kemudian ia menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Dari Mekkah, kemudian melakukan serangkaian lawatan ke berbagai pusat kota di pusat-pusat wilayah Islam, setelah tinggal beberapa saat di Damaskus, Ibnu Arabi wafat di sana pada tahun 1240 M. Dia mewariskan sekitar lima ratus karya. Di antaranya al-Futuhat al-Makkiyah (Pembukaan Ayat-ayat [Wahyu] Mekkah).
Ibnu Arabi mensintesakan hukum syari’at (fiqih), teologi, filsafat, tasawuf, kosmologi, psikologi, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Dia senantiasa mengilhami para intelektual Muslim bahkan di abad mendatang sekalipun, dan pengaruhnya telah menembus bentuk-bentuk Islam yang populer.
Di dalam peradaban Islam, Ibnu Arabi bertindak bagaikan sebuah monumen agung bagi kemungkinan menjaga rasionalitas dengan senantiasa men-transenden-kannya, dan dia tidak dapat berbuat apapun kecuali bertindak bagaikan sebuah rambu-rambu bagi pihak-pihak yang sedang mencari jalan keluar dari kebuntuan pemikiran modern dan postmodern (pasca-modern).
Ibnu Arabi seringkali mengatakan bahwa usaha manusia sebagai pihak yang hanya mencari sampai pada pintunya. Setelah mencapai pintu, mereka dapat mengetuk pintu sesering mereka suka. Ketika pintu telah terbuka untuknya, Ibnu Arabi menemukan bahwa dirinya telah terwarisi seluruh ilmu pengetahuan Muhammad. 


1. Epistimologi Ibnu Arabi
Epistemologi dalam pandangan Ibnu Arabi adalah Epistemologi harus diartikan sebagai teori tentang bagaimana ia memperoleh ilmu pengetahuan di dalam dan melalui mistik, bagaimana isi pengetahuan itu serta bagaimana gambaran jiwanya yang mengahayati pengalaman seperti itu.
Ibnu Arabi sering menggunakan kata fitrah, yang biasa diterjemahkan dengan “kecondongan besar”. Pengertian dasar dari akar istilah ini adalah membelah, membuka, melahirkan, menciptakan, dan membuat.[1]
Para mufasir mengaitkan kata fitrah dengan elemen inti agama yang benar, yakni beriman kepada Allah atau Tauhid, menyatakan ke-Esa-an Allah sebagaimana dinyatakan dalam syahadat pertama, “Tidak ada Tuhan selain Allah”.[2]
Al-Qur’an dan Hadits telah menyinggung gagasan bahwa manusia diciptakan dengan kecondongan dasar yang menyebabkan mereka memahami sesuatu benar-benar sesuai apa adanya mereka.[3]
Ibnu Arabi menggunakan istilah-istilah yang berakar dari nama-nama Allah, semisal Maha Mengetahui (Alim) untuk menunjukkan perbedaan persepsi mengenai Wujud (al-Haqq/ Allah). Di antara istilah-istilah tersebut adalah ma’rifat.
Singkatnya, Ibnu Arabi berpendapat, fitrah manusia dibentuk oleh fakta bahwa mereka adalah satu-satunya makhluk di antar segala hal dalam kosmos yang memiliki potensi untuk mengalami penyingkapan-diri wujud secara sempurna.[4]

2. Psikologi (Jiwa) Ibnu Arabi
Menurut Ibnu Arabi, “jiwa” atau “imajinasi” merujuk pada wilayah tengah yang tidak bercahaya dan tidak gelap, tidak hidup juga tidak mati, tidak cerdas juga tidak bodoh, sadar juga tidak sadar, namun selalu berada di antara dua titik ekstrim tersebut.
Setiap jiwa menunjukkan gabungan antara berbagai kualitas yang unik tersebut dan merupakan kemungkinan yang unik untuk mendaki menuju kesempurnaan. Namun setiap jiwa mungkin juga turun ke dalam keseberagaman dan kegelapan, yang kemudian menjadi musnah tersebar dan melampaui keadaan di bawah derajat manusia. Jiwa berada di tengah antara wilayah imajinasi dan ambiguitas, gabungan dan kebingungan.
Istilah imajinasi merujuk pada seluruh realitas antara yang terbesar, yakni kosmos secara keseluruhan atau Nafas Yang Maha Pengasih. Kosmos berada di tengah antara wujud absolut dan ketiadaan absolut. Kosmos berdiri di antara alam dan al-Haqq dan antara wujud dan non-eksistensi. Kosmos bukanlah makhluk di berbagai sisinya, juga bukan al-Haqq sepenuhnya.
Menurut pengertian lebih luas, imajinasi merujuk pada wilayah jiwa, suatu tingkatan wujud dan kesadaran yang terdapat di antara ruh dan tubuh. Jiwa memiliki keinsafan dan kesadaran, namun kesadaran ini tidak dapat meninggalkan ambiguitas yang merupakan salah satu substansinya.[5]
Ambiguitas dan kemenengahan adalah milik suatu kosmik (imajinasi). Ibnu Arabi menulis tentang kosmos, “Segala sesuatu selain Esensi Tuhan berada di stasiun transmutasi, cepat atau lambat. Segala sesuatu selain Esensi Tuhan dirasuki oleh inajinasi dan bayangan yang mudah sirna, mengalami transformasi dari bentuk menuju bentuk tetap dan selamanya. Maka kosmos hanya akan menjelma di dalam imajinasi.”[6]
Manusia dan kosmos adalah serupa, bahwa masing-masing diciptakan menurut bentuk Tuhan. Namun kosmos mencerminkan nama-nama Tuhan menurut mode yang berbeda (tafshil). Karena manusia adalah bagian dari kosmos, maka kosmos bukanlah bentuk Tuhan yang lengkap tanpa manusia. Akan tetapi, mikrokosmos dan makrokosmos berada pada kutub yang sama. Makrokosmos penyebarannya tidak terbatas, tidak sadar, dan pasif. Namun, mikrokosmos adalah terpusatnya semua atribut Tuhan secara intens, sadar, dan aktif.Manusia mengenal kosmos dan dapat membentuknya menururt tujuan mereka, namun kosmos tidak mengetahui manusia dan tidak dapat membentuk merekasepanjang kosmos merupakan instrumen pasifdi dalam kekuasaan Tuhan.[7]
Ibnu Arabi menjelaskan hubungan antara wujud dan entitas yang merujuk pada cahaya dan bayangan. Kemudian dia mengidentifikasi domain bayangan dengan konsep imajinasi tersebut, sejak itu bayangan dikenali dari dua sisinya –cahaya dan entitas abadi.
Ketika imajinasi digambarkan sebagai suatu realitas dalam mikrokosmos manusia, istilah tersebut digunakan dalam dua pengertian yang sangat berdekatan. Dalam pengertian pertama, imajinasi adalah jiwa. Imajinasi adalah diri manusia yang bertindak sebagai penengah antara cahaya dan ruh ilahi yang bersifat imaterial dengan gelap dan tubuh yang bodoh.
Jika jiwa itu bercahaya dengan gelap, tugas manusia adalah untuk memperkuat cahaya spiritual dan memperlemah kegelapan jasadiyah. Ruh adalah realitas tunggal sementara tubuh memiliki banyak bagian. Oleh karena itu, penguatan terhadap dimensi spiritual jiwa ini sama halnya dengan bergerak menuju kesatuan dan integrasi.
Dalam pengertian mikrokosmos yang kedua, imajinasi bersesuaian kurang lebih terhadap kemampuan mental. Ini adalah suatu kekuatan spesifik dari jiwa yang mejembatani antara dunia spiritual dengan fisikal.[8]
Ibnu Arabi menekankan fakta bahwa sebutan dunia ini “bagaikan impian” hanya dapat berarti sebuah mimpi, dunia, dan segala sesuatu di dalamnya perlu penafsiran. Di dunia ini, manusia berada dalam mimpi. Itulah mengapa dia selama ini diperintahkan untuk menafsirkan.
Ibnu Arabi mengungkapkan intuisi dasar mengenai Tauhid—bahwa segala kualitas nyata bukanlah apa-apa melainkan refleksi dari wujud—dalam banyak cara, seperti halnya ketika dia merujuk pada kosmos secara keseluruhan sebagai “imajinasi”. Alam semesta dan segala isinya bergantung di antara Realitas yang sebenarnya dan ketiadaan non-makhluk; alam semesta beserta isinya itu adalah Tuhan sekaligus bukan Tuhan, Dia/ bukan Dia.[9]

3. Etika Ibnu Arabi
Di dalam bahasa Arab, kata akhlaq adalah bentuk jamak dari khuluq, yang berarti “karakter” dan “karakter dasar bawaan”. Kata khuluq  disebut dua kali dalam al-Qur’an dan berulang-ulang dalam Hadits. Kata ini hanya dibedakan oleh pengucapan (bukan cara penulisan) dari istilah khalq, yang secara tipikal diterjemahkan sebagai “ciptaan”. Oleh karena itu, kata khuluq sangat terkait dengan khalq, yakni katakanlah bahwa karakter berakar dalam ciptaan, atau sifat alami dari sesuatu.[10] Akhlak, sebuah kata yang biasanya diterjemahkan dengan “etik”.
Dalam pandangan Islam oleh Ibnu Arabi, akhlak yang terpuji sebenarnya milik Tuhan dan hanya secara metaforis ditujukan pada sesuatu yang lain. Segala sesuatu yang baik datang dari Tuhan. Setelah diciptakan menurut bentuk Tuhan, manusia dianugerahi dengan semua akhlak terpuji Tuhan. Keterpujian akhlak pada praktiknya tidak semudah membalik tangan. Hanya manusia sempurna yang benar-benar mampu mengakulturasikan akhlak mulia Tuhan.[11]
Hanya manusia yang telah mencapai kesempurnaan saja yang benar-benar dapat dikatakan tercipta menurut bentuk Tuhan. Di dalam diri merekalah nama-nama Tuhan memperlihatkan sifat-sifat dengan tingkatan penuh seluas mungkin di dalam mode manifestasi tertentu yang terakulturasi pada saat itu.
Ibnu Arabi menganggap asal-muasal akhlak terkutuk langsung dari Tuhan, namun itu tidak berarti bahwa keterkutukan merupakan akhlak dasar yang dinisbatkan kepada manusia. Kenyataannya, Arabi mengatakan, apa yang kita sebut tercela dan akhlak terkutuk pada dasarnya mulia dan terpuji.[12]
Akhlak manusia tidak berbeda dari apapun yang lain. Mereka juga tidak pernah dapat secara absolut terpuji atau tercela. Agaknya, mereka dikondisikan oleh kondisi-kondisi di mana orang itu berada. Oleh karena itu, jika kondisi-kondisi tersebut berubah menurut cara yang wajar, akhlak tidak akan lagi disebut “tercela” namun “mulia”, sekalipun kualitas-kualitas pasti yang sama mewujudkan dirinya sendiri. Arabi menjelaskan sifat situasional dari berbagai etika ketika menjelaskan bagaimana lima perintah dari syari’ah diterapkan terhadap sesuatu dan aktivitas-aktivitas tertentu.[13]
Kemudian manusia sempurna akan dengan penuh kesadaran melakukan penghambaan di hadapan Dzat Yang Maha Pengasih. Mereka menerima sumber setiap sifat yang ada dalam diri mereka dan yang lain, dan mereka menyaksikan penyifatan semua akhlak kepada Allah melalui rasa (Dzauq) dan penyingkapan, bukan hanya melalui pemahaman rasional. Mereka memasrahkan (Islam) diri mereka semata-mata kepada wujud dan memberikan setiap akhlak khusus yang mereka gunakan untuk menyebut diri mereka sendiri.[14]

4. Wahdatul Adyan Ibnu Arabi
Sikap yang seharusnya kita munculkan terhadap perbedaan adalah toleransi antarsesama umat, menghindari diskriminasi, terutama terhadap umat minoritas, dan menjalin hubungan yang harmonis. Meskipun agama itu berbeda, sebenarnya memiliki titik persamaan, yakni menyembah terhadap Tuhan yang sesungguhnya sama. Namun, pendapat seperti ini justru dianggap sesat dan menghancurkan keyakinan atau akidah umat.
Adapun perbedaan bentuk agama, dengan kata lain pluralisme agama, ini disebabkan tajalli (penampakan) Tuhan yang beragam. Dengan demikian, perbedaan, keberagaman, bahkan pertentangan di antara agama-agama sesungguhnya terjadi karena interaksi antara tajalli Tuhan dengan respons manusia. Dalam hal ini, tajalli bukan satu-satunya penyebab perbedaan, karena faktor respons juga tak dapat diabaikan dalam mempertegas perbedaan yang berdasar kapasitas dan pengetahuan.
Konsep tajalli menjadi keseluruhan bangunan pemikiran Ibnu 'Arabi dan teorinya. Konsep ini bermula dari pandangan bahwa Tuhan menciptakan alam agar dapat melihat diri-Nya dan memperkenalkan diri-Nya melalui alam. Alam adalah cermin bagi Tuhan. Melalui cermin itulah Dia mengenal dan memperkenalkan wajah-Nya. Maka, dalam pandangan Ibnu 'Arabi, Tuhan adalah "harta yang tersembunyi" yang tidak dapat dikenal kecuali melalui alam.[15]
Ibnu Arabi menarik kesimpulan praktis bahwa Tuhan bisa disembah dengan berbagai cara dan bahwa semua agama adalah benar. Segala sesuatu menjadi manifestasi Subsansi Ketuhanan, Tuhan bisa disembah dalam bintang, anak sapi, atau obyek lainnya. Karenanya mesti ada toleransi menyeluruh terhadap semua agama.[16]
Ibnu Arabi berkata, “Setiap orang memuja apa yang diyakininya, Tuhannya adalah ciptaannya sendiri, dan ketika memujanya berarti dia juga memuja dirinya sendiri. Akibatnya dia menyalahkan keimanan orang lain. Jika saja dia bersikap adil, sebenarnya dia tidak perlu menyalahkan, tetapi rasa tidak suka itu memang berdasar pada kebodohan”.[17]
Inilah sebuah ajaran mengagumkan dari Ibnu Arabi dan jika ajaran ini diikuti dengan praktiknya maka manusia akan terhindar dari kesengsaraan.


[1]. Chittick, William C., Dunia Imajinal Ibnu Arabi, (Surabaya: Risalah Gusti, 2001), hlm., 91.             
[2]. Ibid., hlm., 91.
[3]. Ibid., hlm., 92.
[4]. Ibid., hlm., 110.
[5]. Ibid., hlm. 97.
[6]. Ibid., hlm., 50.
[7]. Ibid., hlm. 59 – 60.
[8]. Ibid., hlm. 126 – 127.
[9]. Ibid., hlm. 96.
[10]. Ibid., hlm. 70.
[11]. Ibid., hlm. 71 – 72.
[12]. Ibid., hlm. 82.
[13]. Ibid., hlm. 84.
[14]. Ibid.,hlm. 87.
[15]. http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/buku-pluralisme-agama-dalam-pandangan.html
[16]. Khan, Ali Mahdi, Dasar-dasar Filsafat Islam, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2004), hlm. 150 – 151.
[17]. Ibid., hlm. 151.