Ibnu
Arabi dikenal dikenal dengan nama Syeikh
al-Akbar atau “Guru Teragung”. Ibnu Arabi adalah pemikir yang sangat
berpengaruh pada sejarah Islam. Ibnu Arabi lahir di Murcia, Spanyol Muslim,
pada tahun 1165 M., dia menunjuakkan bakat bakat intelektual dan spiritual yang
mengagumkan sejak usia muda.
Pada
tahun 1200 M., dia mengungkapkan mimpinya untuk pergi ke Timur, dan dua tahun
kemudian ia menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Dari Mekkah, kemudian melakukan
serangkaian lawatan ke berbagai pusat kota di pusat-pusat wilayah Islam,
setelah tinggal beberapa saat di Damaskus, Ibnu Arabi wafat di sana pada tahun
1240 M. Dia mewariskan sekitar lima ratus karya. Di antaranya al-Futuhat al-Makkiyah (Pembukaan
Ayat-ayat [Wahyu] Mekkah).
Ibnu
Arabi mensintesakan hukum syari’at (fiqih), teologi, filsafat, tasawuf,
kosmologi, psikologi, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Dia senantiasa
mengilhami para intelektual Muslim bahkan di abad mendatang sekalipun, dan
pengaruhnya telah menembus bentuk-bentuk Islam yang populer.
Di
dalam peradaban Islam, Ibnu Arabi bertindak bagaikan sebuah monumen agung bagi
kemungkinan menjaga rasionalitas dengan senantiasa men-transenden-kannya, dan
dia tidak dapat berbuat apapun kecuali bertindak bagaikan sebuah rambu-rambu
bagi pihak-pihak yang sedang mencari jalan keluar dari kebuntuan pemikiran modern
dan postmodern (pasca-modern).
Ibnu
Arabi seringkali mengatakan bahwa usaha manusia sebagai pihak yang hanya
mencari sampai pada pintunya. Setelah mencapai pintu, mereka dapat mengetuk
pintu sesering mereka suka. Ketika pintu telah terbuka untuknya, Ibnu Arabi
menemukan bahwa dirinya telah terwarisi seluruh ilmu pengetahuan Muhammad.
1. Epistimologi
Ibnu Arabi
Epistemologi
dalam pandangan Ibnu Arabi adalah Epistemologi harus diartikan sebagai teori
tentang bagaimana ia memperoleh ilmu pengetahuan di dalam dan melalui mistik,
bagaimana isi pengetahuan itu serta bagaimana gambaran jiwanya yang mengahayati
pengalaman seperti itu.
Ibnu
Arabi sering menggunakan kata fitrah,
yang biasa diterjemahkan dengan “kecondongan besar”. Pengertian dasar dari akar
istilah ini adalah membelah, membuka, melahirkan, menciptakan, dan membuat.[1]
Para
mufasir mengaitkan kata fitrah dengan
elemen inti agama yang benar, yakni beriman kepada Allah atau Tauhid, menyatakan ke-Esa-an Allah
sebagaimana dinyatakan dalam syahadat pertama, “Tidak ada Tuhan selain Allah”.[2]
Al-Qur’an
dan Hadits telah menyinggung gagasan bahwa manusia diciptakan dengan
kecondongan dasar yang menyebabkan mereka memahami sesuatu benar-benar sesuai
apa adanya mereka.[3]
Ibnu
Arabi menggunakan istilah-istilah yang berakar dari nama-nama Allah, semisal
Maha Mengetahui (Alim) untuk
menunjukkan perbedaan persepsi mengenai Wujud
(al-Haqq/ Allah). Di antara istilah-istilah tersebut adalah ma’rifat.
Singkatnya,
Ibnu Arabi berpendapat, fitrah manusia dibentuk oleh fakta bahwa mereka adalah
satu-satunya makhluk di antar segala hal dalam kosmos yang memiliki potensi
untuk mengalami penyingkapan-diri wujud
secara sempurna.[4]
2. Psikologi
(Jiwa) Ibnu Arabi
Menurut
Ibnu Arabi, “jiwa” atau “imajinasi” merujuk pada wilayah tengah yang tidak
bercahaya dan tidak gelap, tidak hidup juga tidak mati, tidak cerdas juga tidak
bodoh, sadar juga tidak sadar, namun selalu berada di antara dua titik ekstrim
tersebut.
Setiap
jiwa menunjukkan gabungan antara berbagai kualitas yang unik tersebut dan
merupakan kemungkinan yang unik untuk mendaki menuju kesempurnaan. Namun setiap
jiwa mungkin juga turun ke dalam keseberagaman dan kegelapan, yang kemudian
menjadi musnah tersebar dan melampaui keadaan di bawah derajat manusia. Jiwa
berada di tengah antara wilayah imajinasi dan ambiguitas, gabungan dan
kebingungan.
Istilah
imajinasi merujuk pada seluruh
realitas antara yang terbesar, yakni kosmos secara keseluruhan atau Nafas Yang
Maha Pengasih. Kosmos berada di tengah antara wujud absolut dan ketiadaan absolut. Kosmos berdiri di antara alam
dan al-Haqq dan antara wujud dan
non-eksistensi. Kosmos bukanlah makhluk di berbagai sisinya, juga bukan al-Haqq
sepenuhnya.
Menurut
pengertian lebih luas, imajinasi merujuk pada wilayah jiwa, suatu tingkatan wujud dan kesadaran yang terdapat di
antara ruh dan tubuh. Jiwa memiliki keinsafan dan kesadaran, namun kesadaran
ini tidak dapat meninggalkan ambiguitas yang merupakan salah satu substansinya.[5]
Ambiguitas
dan kemenengahan adalah milik suatu kosmik (imajinasi). Ibnu Arabi menulis
tentang kosmos, “Segala sesuatu selain Esensi Tuhan berada di stasiun
transmutasi, cepat atau lambat. Segala sesuatu selain Esensi Tuhan dirasuki oleh
inajinasi dan bayangan yang mudah sirna, mengalami transformasi dari bentuk
menuju bentuk tetap dan selamanya. Maka kosmos hanya akan menjelma di dalam
imajinasi.”[6]
Manusia
dan kosmos adalah serupa, bahwa masing-masing diciptakan menurut bentuk Tuhan. Namun
kosmos mencerminkan nama-nama Tuhan menurut mode yang berbeda (tafshil). Karena manusia adalah bagian
dari kosmos, maka kosmos bukanlah bentuk Tuhan yang lengkap tanpa manusia. Akan
tetapi, mikrokosmos dan makrokosmos berada pada kutub yang sama. Makrokosmos
penyebarannya tidak terbatas, tidak sadar, dan pasif. Namun, mikrokosmos adalah
terpusatnya semua atribut Tuhan secara intens, sadar, dan aktif.Manusia
mengenal kosmos dan dapat membentuknya menururt tujuan mereka, namun kosmos
tidak mengetahui manusia dan tidak dapat membentuk merekasepanjang kosmos
merupakan instrumen pasifdi dalam kekuasaan Tuhan.[7]
Ibnu
Arabi menjelaskan hubungan antara wujud
dan entitas yang merujuk pada cahaya dan bayangan. Kemudian dia
mengidentifikasi domain bayangan dengan konsep imajinasi tersebut, sejak itu
bayangan dikenali dari dua sisinya –cahaya dan entitas abadi.
Ketika
imajinasi digambarkan sebagai suatu realitas dalam mikrokosmos manusia, istilah
tersebut digunakan dalam dua pengertian yang sangat berdekatan. Dalam
pengertian pertama, imajinasi adalah jiwa. Imajinasi adalah diri manusia yang
bertindak sebagai penengah antara cahaya dan ruh ilahi yang bersifat imaterial
dengan gelap dan tubuh yang bodoh.
Jika
jiwa itu bercahaya dengan gelap, tugas manusia adalah untuk memperkuat cahaya
spiritual dan memperlemah kegelapan jasadiyah. Ruh adalah realitas tunggal
sementara tubuh memiliki banyak bagian. Oleh karena itu, penguatan terhadap
dimensi spiritual jiwa ini sama halnya dengan bergerak menuju kesatuan dan
integrasi.
Dalam
pengertian mikrokosmos yang kedua, imajinasi bersesuaian kurang lebih terhadap
kemampuan mental. Ini adalah suatu kekuatan spesifik dari jiwa yang mejembatani
antara dunia spiritual dengan fisikal.[8]
Ibnu
Arabi menekankan fakta bahwa sebutan dunia ini “bagaikan impian” hanya dapat
berarti sebuah mimpi, dunia, dan segala sesuatu di dalamnya perlu penafsiran.
Di dunia ini, manusia berada dalam mimpi. Itulah mengapa dia selama ini
diperintahkan untuk menafsirkan.
Ibnu
Arabi mengungkapkan intuisi dasar mengenai Tauhid—bahwa
segala kualitas nyata bukanlah apa-apa melainkan refleksi dari wujud—dalam banyak cara, seperti halnya
ketika dia merujuk pada kosmos secara keseluruhan sebagai “imajinasi”. Alam
semesta dan segala isinya bergantung di antara Realitas yang sebenarnya dan
ketiadaan non-makhluk; alam semesta beserta isinya itu adalah Tuhan sekaligus
bukan Tuhan, Dia/ bukan Dia.[9]
3. Etika
Ibnu Arabi
Di
dalam bahasa Arab, kata akhlaq adalah
bentuk jamak dari khuluq, yang
berarti “karakter” dan “karakter dasar bawaan”. Kata khuluq disebut dua kali
dalam al-Qur’an dan berulang-ulang dalam Hadits. Kata ini hanya dibedakan oleh
pengucapan (bukan cara penulisan) dari istilah khalq, yang secara tipikal diterjemahkan sebagai “ciptaan”. Oleh
karena itu, kata khuluq sangat
terkait dengan khalq, yakni
katakanlah bahwa karakter berakar dalam ciptaan, atau sifat alami dari sesuatu.[10] Akhlak, sebuah kata yang biasanya
diterjemahkan dengan “etik”.
Dalam
pandangan Islam oleh Ibnu Arabi, akhlak yang terpuji sebenarnya milik Tuhan dan
hanya secara metaforis ditujukan pada sesuatu yang lain. Segala sesuatu yang
baik datang dari Tuhan. Setelah diciptakan menurut bentuk Tuhan, manusia
dianugerahi dengan semua akhlak terpuji Tuhan. Keterpujian akhlak pada
praktiknya tidak semudah membalik tangan. Hanya manusia sempurna yang
benar-benar mampu mengakulturasikan akhlak mulia Tuhan.[11]
Hanya
manusia yang telah mencapai kesempurnaan saja yang benar-benar dapat dikatakan
tercipta menurut bentuk Tuhan. Di dalam diri merekalah nama-nama Tuhan
memperlihatkan sifat-sifat dengan tingkatan penuh seluas mungkin di dalam mode
manifestasi tertentu yang terakulturasi pada saat itu.
Ibnu
Arabi menganggap asal-muasal akhlak terkutuk langsung dari Tuhan, namun itu
tidak berarti bahwa keterkutukan merupakan akhlak dasar yang dinisbatkan kepada
manusia. Kenyataannya, Arabi mengatakan, apa yang kita sebut tercela dan akhlak
terkutuk pada dasarnya mulia dan terpuji.[12]
Akhlak
manusia tidak berbeda dari apapun yang lain. Mereka juga tidak pernah dapat
secara absolut terpuji atau tercela. Agaknya, mereka dikondisikan oleh
kondisi-kondisi di mana orang itu berada. Oleh karena itu, jika kondisi-kondisi
tersebut berubah menurut cara yang wajar, akhlak tidak akan lagi disebut
“tercela” namun “mulia”, sekalipun kualitas-kualitas pasti yang sama mewujudkan
dirinya sendiri. Arabi menjelaskan sifat situasional dari berbagai etika ketika
menjelaskan bagaimana lima perintah dari syari’ah diterapkan terhadap sesuatu
dan aktivitas-aktivitas tertentu.[13]
Kemudian
manusia sempurna akan dengan penuh kesadaran melakukan penghambaan di hadapan
Dzat Yang Maha Pengasih. Mereka menerima sumber setiap sifat yang ada dalam
diri mereka dan yang lain, dan mereka menyaksikan penyifatan semua akhlak
kepada Allah melalui rasa (Dzauq) dan
penyingkapan, bukan hanya melalui pemahaman rasional. Mereka memasrahkan (Islam) diri mereka semata-mata kepada wujud dan memberikan setiap akhlak
khusus yang mereka gunakan untuk menyebut diri mereka sendiri.[14]
4. Wahdatul
Adyan Ibnu Arabi
Sikap
yang seharusnya kita munculkan terhadap perbedaan adalah toleransi antarsesama
umat, menghindari diskriminasi, terutama terhadap umat minoritas, dan menjalin
hubungan yang harmonis. Meskipun agama itu berbeda, sebenarnya memiliki titik
persamaan, yakni menyembah terhadap Tuhan yang sesungguhnya sama. Namun,
pendapat seperti ini justru dianggap sesat dan menghancurkan keyakinan atau
akidah umat.
Adapun
perbedaan bentuk agama, dengan kata lain pluralisme agama, ini disebabkan
tajalli (penampakan) Tuhan yang beragam. Dengan demikian, perbedaan,
keberagaman, bahkan pertentangan di antara agama-agama sesungguhnya terjadi
karena interaksi antara tajalli Tuhan dengan respons manusia. Dalam hal ini,
tajalli bukan satu-satunya penyebab perbedaan, karena faktor respons juga tak
dapat diabaikan dalam mempertegas perbedaan yang berdasar kapasitas dan
pengetahuan.
Konsep
tajalli menjadi keseluruhan bangunan pemikiran Ibnu 'Arabi dan teorinya. Konsep
ini bermula dari pandangan bahwa Tuhan menciptakan alam agar dapat melihat
diri-Nya dan memperkenalkan diri-Nya melalui alam. Alam adalah cermin bagi
Tuhan. Melalui cermin itulah Dia mengenal dan memperkenalkan wajah-Nya. Maka,
dalam pandangan Ibnu 'Arabi, Tuhan adalah "harta yang tersembunyi"
yang tidak dapat dikenal kecuali melalui alam.[15]
Ibnu
Arabi menarik kesimpulan praktis bahwa Tuhan bisa disembah dengan berbagai cara
dan bahwa semua agama adalah benar. Segala sesuatu menjadi manifestasi Subsansi
Ketuhanan, Tuhan bisa disembah dalam bintang, anak sapi, atau obyek lainnya.
Karenanya mesti ada toleransi menyeluruh terhadap semua agama.[16]
Ibnu
Arabi berkata, “Setiap orang memuja apa yang diyakininya, Tuhannya adalah
ciptaannya sendiri, dan ketika memujanya berarti dia juga memuja dirinya
sendiri. Akibatnya dia menyalahkan keimanan orang lain. Jika saja dia bersikap
adil, sebenarnya dia tidak perlu menyalahkan, tetapi rasa tidak suka itu memang
berdasar pada kebodohan”.[17]
Inilah
sebuah ajaran mengagumkan dari Ibnu Arabi dan jika ajaran ini diikuti dengan
praktiknya maka manusia akan terhindar dari kesengsaraan.
[1]. Chittick,
William C., Dunia Imajinal Ibnu Arabi,
(Surabaya: Risalah Gusti, 2001), hlm., 91.
[2]. Ibid., hlm., 91.
[3]. Ibid., hlm., 92.
[4]. Ibid., hlm., 110.
[5]. Ibid., hlm. 97.
[6]. Ibid., hlm., 50.
[7]. Ibid., hlm. 59 – 60.
[8]. Ibid., hlm. 126 – 127.
[9]. Ibid., hlm. 96.
[10]. Ibid., hlm. 70.
[11]. Ibid., hlm. 71 – 72.
[12]. Ibid., hlm. 82.
[13]. Ibid., hlm. 84.
[14]. Ibid.,hlm. 87.
[15]. http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/buku-pluralisme-agama-dalam-pandangan.html
[16]. Khan, Ali
Mahdi, Dasar-dasar Filsafat Islam, (Bandung:
Nuansa Cendekia, 2004), hlm. 150 – 151.
[17]. Ibid., hlm. 151.